Halo Teman-teman Bertemu lagi dengan
saya Braca Sundawa!
Masih Pada Semangat Belajarnya?
Oke Langsung Saja
Kali ini saya akan share Makalah PJOK Tentang IMS Infeksi Menular Seks
Cekidot..............!
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang mana pada kesempatan
ini penulis telah selesai menulis sebuah makalah dengan judul “ IMS ( INFEKSI MENULAR
SEKS”, Dalam
proses pembuatan makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Guru pembimbing
Pelajaran PJOK yang telah membantu dalam penelitian.
Adapun tujuan dari penulisan makalah
ini yaitu untuk menambah pengetahuan serta wawasan yang luas kepada para
pembaca. Dengan mengetahui bagaimana dunia pergaulan remaja saat ini, pembaca
diharapkan bias memilih pergaulan yang baik dan sehat. Sehingga dapat memberkan
pembelajaran yang baik dan menanamkan nilai etika yang baik pula.
Penulis sadar
bahwa makalah yang penulis buat masih sangatlah jauh dari kesempurnaan dan
masih sangat banyak memiliki kekurangan. Maka dari itu, penulis sangat
mengharapkan saran dari pembaca.
Cisolok, 25 Juli 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................................
i
DAFTAR ISI .......................................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................
1
1.1 Latar
Belakang Masalah......................................................................................
1
1.2 Perumusan
Masalah ...........................................................................................
2
1.3 Tujuan
Penelitian ...............................................................................................
2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................
3
2.1 Infeksi
Menular Seksual (IMS)……...................................................................
3
BAB III PENUTUP .............................................................................................................8
3.1 Kesimpulan
..........................................................................................................8
3.2 Saran
................................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 9
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Masalah
Di Indonesia, penyakit ini
mulai menjalar dengan perkembangan penularan yang sangat cepat. Tidak dapat
disangkal bahwa mata rantai penularan infeksi menular seksual adalah wanita
tunasusila (WTS) yang dapat menyusup kedalam kehidupan rumah tangga. Perubahan
perilaku seksual telah menyababkan timbulnya berbagai masalah yang berkaitan
dengan infeksi menular seksual dan kehamilan yang tidak dikehendaki. Bila
penyakit infeksi menular seksual sebagian besar dapat diselesaikan dengan
pengobatan yang tepat sehingga tidak menimbulkan penyulit selanjutnya , berbeda
dengan kehamilan yang tidak dikehendaki. Masalah terakhir ini mempunyai dampak
yang lebih luas baik biologis, psikologis, sosial, spiritual, dan etika.
Penyakit
infeksi menular seksual dapat menimbulkan infeksi akut (mendadak) yang
memerlukan penanganan yang tepat karena akan dapat menjalar ke alat genetalia
bagian dalam (atas) dan menimbulkan penyakit radang panggul. Pengobatan yang
kurang memuaskan akan menimbulkan penyakit menjadi menahun (kronis) dengan
akibat akhir rusaknya fungsi alat genetalia bagian dalam sehingga menimbulkan
kurang subur atau mandul.
Dalam
upaya meningkatkan pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi, menjadikan
remaja tegar dalam menghadapi masalah dan mampu mengambil keputusan terbaik
bagi dirinya, maka pelayanan konseling sangat diperrlukan remaja. Meskipun
kepedulian pemerintah, masyarakat maupun LSM dalam memperluas penyediaan
informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi sudah semakin meningakat, namun
dalam akses pemberian layanan konseling masih terbatas. Hal ini antara lain
disebabkan keterbatasan jumlah fasilitas pelayanan konseling bagi remaja yang
sangat terbatas. Disamping itu, kemampuan tenaga konselor dalam memberikan
konseling kepada remaja dipusat pelayanan informasi dan konsultasi kesehatan
reproduksi remaja juga masih terbatas. Atas dasar itulah maka guna mendukung
kemampuan SDM dalam melakukan konseling kesehatan reproduksi remaja perlu
disiapkan tenaga yang terlatih meelalui workshop konseling kesehatan reproduksi
remaja.
1.2 Perumusan Masalah
Dari teori diatas, didapat
rumusan masalah sebagai berikut :
a.
Apa yang dimaksud dengan Infeksi Menular Seksual ?
b.
Jenis penyakit Infeksi Menular Seksual ?
c.
Bagaimana cara penanggulanan IMS ?
d.
Bagaimana cara pengobatan dan pencegahan IMS ?
e.
Apa komplikasi yang ditimbulkan ?
1.3 Tujuan Penelitian
Selain untuk memenuhi salah
satu tugas mata kuliah Kesehatan Reproduksi, makalah ini ditulis dengan tujuan
sebagai berikut :
a.
Untuk mengetahui apa itu penyakit Infeksi Menular Seksual
b.
Untuk mengetahui jenis penyakit IMS dan cara pengobatan
c.
Untuk mengetahui peran bidan dalam
mengatasi IMS
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Infeksi Menular Seksual (IMS)
1.
Definisi
Infeksi Menular Seksual
adalah infeksi yang sebagian besar menular lewat hubungan seksual dengan
pasangan yang sudah tertular. Hubungan seks ini termasuk hubungan seks lewat
liang senggama, lewat mulut (oral) atau lewat dubur (anal). Infeksi Menular
Seksual disebut juga penyakit kelamin. Infeksi Menular Seksual menyerang
sekitar alat kelamin (Wells et al., 2009 ).
Kebanyakan Infeksi Menular
Seksual membahayakan organ-organ reproduksi. Pada wanita, dapat merusak dinding
vagina atau leher rahim, biasanya tanpa tanda-tanda infeksi. Pada pria adanya
infeksi pada saluran air kencing. Apabila tidak diobati dapat menyebabkan
keluarnya cairan yang tidak normal dari penis dan berakibat sakit pada waktu
buang air kecil (Wells et al., 2009 ).
2.
Etiologi
Infeksi Menular Seksual
diklasifikasikan berdasarkan agen penyebabnya dari golongan bakteri yaitu Neisseria
gonorrhoeae, Treponemapallidum, Gardnerella vaginalis, Hemophilus
ducreyi, Calymmatobacterium granulomatis. Berdasarkan penelitian di
Bangladesh 35,5% positif terkena Neisseria gonorrhoeae, 62,5% positif
terkena Treponemapallidum (Rahman et al., 2000).
3. Bahaya IMS
Dengan berbagai penyakit yang timbul pada
IMS, adapun bahaya yang di timbulkan diantaranya yaitu :
ü Membuat sakit sakitan
ü Membuat mandul
ü Merusak penglihatan, otak
dan hati
ü Menyebabkan mudah tertular
HIV
ü Menyebabkan kematian
3.
Jenis-Jenis Infeksi Menular Seksual Berdasarkan Infeksi Bakteri
a.
Gonore (Kencing Nanah)
Gonorrhea merupakan
infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual dan disebabkan oleh Neisseria
gonorrhoeae. Pada pria ditandai oleh uretritis dengan nyeri dan secret
purulen, biasanya asimptomatik pada wanita, tetapi dapat meluas menyebabkan
salphingitis. Bakteri ini dapat terjadi pada kedua jenis alat kelamin,
mengakibatkan lesi kulit dan arthritis (Dorland, 2002).
Neisseria gonorrhoeae adalah
bakteri penyebab infeksi gonore yang merupakan salah satu penyebab terpenting
Infeksi Menular Seksual. Sama halnya dengan Infeksi Menular Seksual lainnya,
gonore Iebih banyak mempengaruhi kesehatan wanita dari pada pria (Josodiwondo,
1993). Hal ini disebabkan karena wanita Iebih mudah terinfeksi dari pada pria
(kemungkinnanya 50-60% dibandingkan dengan 35%) dan karena 50-80% infeksi pada
wanita tidak menimbulkan gejala (asimptomatik). Wanita biasanya tidak mencari
pengobatan sampai terjadi komplikasi yang Iebih berat (Sweet et al,
1995).
Gejala-gejala:
· Keluar cairan kental
berwarna kekuningan dari alat kelamin
· Nyeri di perut bagian bawah
(hanya pada perempuan)
· Seringkali pada perempuan
tanpa gejala
Komplikasi
yang mungkin terjadi:
· Penyakit radang panggul
pada perempuan
· Kemungkinan terjadi
kemandulan baik pada perempuan atau laki-laki
· Infeksi mata pada bayi baru
lahir yang dapat menyebabkan kebutaan
· Kehamilan ektopik (di luar
kandungan)
· Memudahkan
penularan infeksi HIV
b.
Chancroid (Ulkus Mole)
Ditularkan melalui hubungan
kelamin, yang disebabkan oleh Haemophillus
ducreyi, ditandai dengan ulkus primer yang nyeri pada tempat inokulasi,
biasanya alat kelamin luar (Alfa, 2005). Dicarlo (1995) melaporkan kasus
chancroid di Amerika serikat mencapai 118 (39%).
c.
Granuloma Inguinale
Merupakan infeksi kulit
kelamin yang disebabkan oleh Calymmatobacterium granulomatis,
menyebabkan peradangan menahun pada alat kelamin. Bagian tubuh yang terkena
pada pria adalah penis, buah zakar, selangkangan dan paha, sedangkan
pada wanita meliputi vulva vagina dan kulit di sekitarnya (Richens, 2006).
d.
Bacterial vaginosis
Bakterial vaginosis
merupakan gejala klinis pada vagina akibat pergantian dari lactobacillus yang
normalnya memproduksi hydrogen peroksida di vagina dengan bakteri anaerob yaitu
Gardnerella vaginalis (WHO, 2003). Menurut Oduyebo (2009) sebanyak 30%
wanita menderita bakterial vaginosis ditandai dengan keluarnya cairan dari
vagina. Hal ini akibat dari pergantian lactobacillus dengan peningkatan
bakteri anaerob Gardnerella vaginalis.
e. Sifilis
Syphilis disebabkan oleh Treponema
pallidum. Sifilis menular melalui kontak langsung antara luka (yang
bernanah atau yang membengkak) di kulit dengan selaput lendir atau dengan
cairan tubuh (air mani, darah, cairan vagina) selama senggama (Goh, 2005). 6
Kasus sifilis di Colombia tahun 1996-1999 mengalami peningkatan dari 0,5-3,4
per 100.000 orang (Patrick et al, 2002).
Munculnya
gejala-gejala dibagi menjadi tiga tahap:
· Primer: tanpak luka
tunggal, menonjol dan tidak nyeri
· Sekunder:
· Bintil/bercak merah di
tubuh yang hilang sendiri
· Kelenjar limfa generalisata
membesar tanpa tanda radang (limfadenopati)
· Pada masa laten tanpa
gejala
· Tersier: kelainan jantung,
kulit, pembuluh darah dan gangguan saraf
Komplikasi
yang mungkin terjadi:
· Kerusakan pada otak dan
jantung
· Pada kehamilan dapat
ditularkan pada bayi
· Keguguran atau lahir cacat
· Memudahkan penularan
infeksi HIV
f.
Klamidia
Disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Infeksi
ini biasanya krons, karena 70% perempuan pada awalnya tidak merasakan
gejala apapun sehingga tidak memeriksakan diri.
Gejala-gejala
yang mungkin muncul:
· Cairan vagina/penis encer
berwarna putih -kekuningan
· Nyeri di rongga panggul
· Pendarahan setelah hubungan
seksual (pada perempuan)
Komplikasi
yang mungkin terjadi:
· Biasanya menyertai Gonore
· Penyakit radang panggul
· Kemandulan akibat
perlekatan pada saluran Falopian
· Kehamilan ektopik (di luar
kandungan)
· Infeksi mata dan radang
paru-paru (pneumpnia) pada bayi baru lahir
· Memudahkan
penularan infeksi HIV
4. Penatalaksanaan
dan Pengobatan IMS
a. Antibiotik
Antibiotik merupakan
zat-zat kimia yang dihasilkan oleh bakteri yang memiliki khasiat mematikan atau
menghambat pertumbuhan kuman (Tjay dan raharja, 2007). Adapun mekanisme dari
antibiotik yaitu mengganggu sintesis dinding sel bakteri (penisilin,
sefalosporin), menghambat sintesis protein (kloramfenikol, tetrasiklin),
mengganggu sintesis asam nukleat (rifampisin, ciprofloksasin), mengganggu
pembentukan membran sel (polimiksin) dan menghambat sintesis metabolit esensial
(sulfametoksazol) (Tenover, 2006)
Pengobatan sendiri dengan
antibiotik, tidak hanya terjadi di negara-negara sedang berkembang, tetapi juga
di negara-negara maju. Selebihnya di negara-negara Eropa seperi Romania dan
Lithuania juga ditemukan prevalensi yang tinggi pada pengobatan sendiri dengan
antibiotik (Al-Azzam, 2007). Suatu penelitian yang dilakukan di Saudi Arabia
tingginya prevalensi pengobatan sendiri dengan antibiotik pada orang dewasa
(44%) dan anak-anak (34%). Persentase pengobatan sendiri dengan antibiotik yang
ditemukan di India (18%), Sudan (48%), dan Jordan (40%) (Abasaeed, 2009).
Adapun penelitian yang dilakukan di Brazil menunjukkan bahwa 74% dari 107
apotek yang telah dikunjungi, termasuk 88% apotek yang didaftar oleh Municipal
Health Secretary, menjual antibiotik tanpa resep dokter (Volpato, 2005).
b. Pengobatan yang Rasional
Pemakaian obat yang
rasional hanya menggunakan obat-obatan yang telah terbukti keamanan dan
efektifitasnya dengan uji klinik. Suatu pengobatan dikatakan rasional apabila
memenuhi beberapa kriteria tertentu. Kriteria pemakaian obat secara rasional
meliputi: tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, selalu ada dan
harganya terjangkau (WHO, 1985).
a. Tepat indikasi
Ketepatan indikasi
peresepan obat didasarkan pada pertimbangan klinis pasien dilihat dari indikasi
medik bahwa intervensi dengan obat memang diperlukan (WHO, 1985).
b. Tepat Obat
Pemilihan jenis obat
berdasarkan pemilihan kelas terapi dan jenis obat berdasarkan pertimbangan
manfaat dan keamanan (WHO, 1985).
c. Tepat Pasien
Pasien dapat menerima
obat-obat yang diberikan sesuai kondisi klinis pasien tanpa adanya kontra
indikasi (WHO, 1985).
d. Tepat Dosis
Cara pemakaian obat
memerlukan pertimbangan farmakokinetika yaitu cara pemberian, besar dosis,
frekuensi pemberian dan lama pemberian (WHO, 1985).
e. Selalu Ada dan Harganya Terjangkau
Pemerintah menyediakan obat
generik di klinik kesehatan yaitu puskesmas dan dalam peresepannya dituliskan
dengan obat generik (WHO, 1985).
f. Puskesmas
Puskesmas adalah unit
pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten atau kota yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja (DEPKES RI,
2007).
g. Rekam Medik
Rekam medik adalah sejarah
ringkas, jelas dan akurat dari kehidupan dan kesakitan penderita, ditulis dari
sudut pandang medik (Siregar, 2003).
BAB
III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Demikian yang dapat kami
paparkan mengenai Penyakit Infeksi
Menular Seksual, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena
terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap
para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun
kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di
ekesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada
khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
3.2. Saran
IMS merupakan penyakit seksual yang dirasa
cukup membahayakan bahkan sampai menimbulkan kematian, untuk itu perlu adanya
suatu pencegahan yang tepat dan benar, menjaga kebersihan alat kelamin dapat
menjadi salah satu cara, sehingga nantinya tidak menyebar dan menimbulkan suatu
komplikasi. Semua orang dapat beresiko terkena infeksi ini. IMS ada banyak
macamnya, pengobatan penyakit berbeda beda karena penyebab IMS berasal dari berbagai
sumber seperti virus, bakteri maupun jamur parasit.
Sebagai seorang bidan kita mempunyai
kewajiban untuk berperan dalam pengendalian penyebaran IMS ini.
Daftar Pustaka
KPAN.HIV/AIDS
dan Infeksi Menular Seksual Lainnya di Indonesia.Tantangan danPeluang Untuk bertindak.Jakarta 2001
Oke Sekian Dari Saya Kurang Lebihnya Mohon Maaf Sebesar Besarnya ya!
Tetap Semangat Belajarnya Guys!
Komentar
Posting Komentar